Minggu, 19 April 2020

Selimut keresahan hati


Percayakah kamu akan cinta yang salah. Aku mengalaminya. Aku tau dia sudah memiliki kekasih, tapi entah kenapa rasa yang ada dalam diri ini selalu menyelimuti untuk selalu mengharapkannya. Rasa dalam diri ini masih bergelora, untuk merebutnya. Namunn, akan menjadi sangat keji sekali jika hanya mengutamakan perasaanku sendiri. Aku tak tau harus berbuat apa. Menjauh darinya membuatku sakit, jika aku mendekatinya justru akan membuat orang lain yang merakan sakit. Seandainya aku di minta untuk memilih. Lalu aku harus memilih sakit yang mana agar bisa menjalani kehidupan dengan nyaman. Membiarka hatiku terluka? Apa aku akan sekuat itu menahan sakitnya menerimamu bersamanya. Atau aku harus menyakitimu dengannya? Hal itu justru akan membuatku jadi lebih sakit. Mana mungkin aku bisa bahagia melihatmu bersedih. Sampai saat ini aku masih ragu akan diriku sendiri. Apa yang aku lakukan untukmu? Apa yang akan kau lakukan untukku? Semuanya terasa tiada arti ketika sampai di fase ini.

by : Mr Fikra

Gelisahmu takkan pernah sampai


Sampai kapan akan terus membuka mata.? Apakah sampai lelah dan hingga ia akan terpejam sendiri.?
Mengapa begitu mudahnya untuk menyerah..
Sehingga kamu tidak memiliki keinginan untuk diri sendiri..
Jika seandainya Rasa itu ada, namun takdirmu berkata lain
Ada yang mesti kamu pahami dalam sisi ini.
Hanya saja keyakinan dalam dirimu masih terlalu rapuh untuk di jadikan sandaran..
Masih terlalu lemah untuk di jadikan pegangan..
Masih terlalu kecil untuk di jadikan harapan..
Begitulah,aku pun bingung apa yg harus di lakukan
karena kegelisahan biasanya akan membawa kesedihan, dan hanya orang yg sudah berdamai dengan kegelisahan mampu menertawakan kegelisahannya.
berdamailah dengan kesendirian mu, agar tau betapa berartinya kebersamaan.
mengalah bukan berarti kamu kalah, sesungguhnya dirimu sendirilah lawan yang nyata. Lawan mu itu ada di dalam hatimu; egomu, nafsumu. Lawan ia, kalahkan ia.

By : Mr Fikra

Doa dan Harapan


Mendekatimu merupakan naluriku. Kemudian kamu berpura-pura tidak peduli dan menjauhiku. Padahal aku yakin sekali dalam hatimu berkata “aku tidak bisa jauh darinya,dan aku sangat peduli padanya”.

Itu mungkin hanya perasaanku saja atau sekedar harapanku saja. Hingga saat ini aku tidak pernah berfikir buruk tentangmu. Selalu merasakan kamu ada di dekatku. Melihatku  dari kejauhan. Menerangi dalam kegelapan.  Membersamai di saat kesepian. 

Tapi apa boleh buat, semua yang aku bayangkan hanya sebatas angan, berandai-andai denganmu saja. Aku ingin sekali melengkapi kekuranganmu, menjadi yang tersakiti dalam bahagiamu, menjadi  terluka dalam kecewamu dan menjadi derita dalam air matamu.  

Kini harapanku sudah menjadi doa, dan kenyataan yang di tunggu akan segera tiba. Semua bergantung padamu. Memilih untuk mengabulkan doa ku. Atau tetap menjadi harapanku.

By : Mr Fikra